11/1/1/1/1839
Dalam ajaran agama Buddha, kita selalu diingatkan akan adanya karma dan hukum sebab akibat, segala sesuatu di alam semesta ini tidak terjadi secara kebetulan dan tidak ada yang tetap, dalam sekejap selalu mengalami perubahan. Begitupula perasaan jiwa kita, dalam satu hari saja telah mengalami ribuan perubahan suasana hati yang tidak bisa hanya dipahami dan dijangkau dengan pikiran manusia semata-mata. Prinsip dalam menjalani ajaran suatu agama adalah PERCAYA. Jika kita sungguh-sungguh percaya akan keagungan dan keunggulan ajaran Buddha, kita pasti bisa menjalani hidup ini dengan perasaan hati yang gembira meskipun kesulitan mendera karena kita memiliki kekuatan hati kepercayaan untuk menghadapi semua itu. Salah satu pokok utama dalam ajaran agama Buddha adalah adanya hukum sebab akibat. Ajaran Buddha memperhatikan fenomena dan gejala alam semesta yang selalu berubah sebagai lambang perjalanan kehidupan manusia. Sebab yang terjadi pada sekejap waktu akan selalu dilanjutkan dengan akibat dari sebab itu sendiri, begitu seterusnya. Di jaman sekeruh seperti sekarang ini, kita sangatlah beruntung karena di usia muda sudah bisa mengenal ajaran Buddha yang begitu agung. Apa jadinya jika kita tidak memiliki suatu pegangan hidup dan kesulitan hidup terus bergulir tiada hentinya? Pada saat ini juga kita sudah sepantasnya berterimakasih dan menyadari betapa beruntungnya kita bisa mengalami keadaan hidup. Hidup adalah penderitaan dan penderitaan adalah hidup. Semua orang di dunia ini pasti pernah mengalami kesulitan dan pada saat itu pula, segalanya bisa dirubah. Jika kita bisa menerima kesulitan itu sebagai karma masa lampau kita, dalam sekejap kesulitan ia akan berubah menjadi obat bagi penderitaan hidup kita. Tetapi kesulitan akan tetap menjadi kesulitan bahkan menjadi semakin perih apabila kita selalu menyalahkan lingkungan sebagai penyebab munculnya kesulitan kita. Penderitaan jugalah yang membuat kita tetap bisa hidup, dengan adanya kesulitan maka kita akan menyadari betapa berharganya hidup ini, kita pun akan berusaha keras untuk menghadapi kesulitan itu demi melanjutkan perjalanan hidup kita. Mumpung kita masih muda, tenaga masih kuat dan kesempatan yang tersedia masih banyak, inilah saat paling tepat untuk merombak karma masa lampau kita yang sudah bertumpuk-tumpuk sejak kehidupan berkalpa-kalpa yang lalu. Mari kita pupuk rejeki jiwa kita dengan berbuat sebab- sebab baik, belajar dan menjalankan kata-kata Buddha, belajar memikirkan kebahagiaan orang lain, menghargai orang lain dan menyebarluaskan ajaran agama Buddha demi terwujudnya perdamaian di dunia ini. Kita bisa seperti sekarang ini, dengan segala kelebihan dan kekurangan kita, adalah karena akibat dari segala perbuatan kita di masa lampau. Ini berarti apa yang kita lakukan pada kehidupan sekarang ini akan menentukan keadaan kita di hidup yang akan datang. Hukum sebab akibat akan terus ada dalam tiga masa: masa lampau, masa sekarang dan masa akan datang, akan terus mengiringi mengalirnya hukum sebab akibat. Dengan menyadari hukum sebab akibat seperti yang tercakup dalam ajaran agama Buddha yang kita yakini, mari kita sama-sama mulai bertekad untuk berbuat sebab baik pada saat ini juga dan pada kehidupan akan datang kita jugalah yang akan memanen buah-buah akibat perbuatan baik kita. Dengan memperhatikan cara bertingkahlaku, cara berbicara terhadap orang lain, kita sudah berbuat sebab baik. Ada pepatah mengatakan jangan pernah menyakiti jika tidak ingin disakiti, sudah jelas sekali betapa besar pengaruh hukum sebab akibat dalam kehidupan sehari-hari kita. Ajaran Buddha menjelaskan banyak prinsip hidup dan hukum sebab akibat adalah salah satunya. Akhir kata sebagai generasi muda yang tangguh, mari kita bersama-sama mulai memupuk sebab baik dalam hidup, setiap detik, menit, jam, hari, dengan berpegang teguh pada kata-kata Buddha, mari kita merombak sifat buruk dalam jiwa ini demi kehidupan yang lebih baik. Teori kewajaran alam semesta akan selalu ada dalam dunia ini, perbuatan baik pasti akan berbuah baik dan perbuatan buruk tidak mungkin berbuah baik. So, mari kita berjuang bersama.

Polaroid